Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Jumat, 11 Januari 2013

Jabar Kembangkan Tempe Higienis dan Premium

BANDUNG, (PRLM).- Jabar menjadi provinsi pertama tempat dikembangkannya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi komoditas tempe higienis dan berlevel premium dengan pabrik yang ramah lingkungan.
Hal tersebut ditandai dengan keberadaan Rumah Tempe Indonesia (RTI) yang didirikan sejak Juni tahun lalu di Bogor. Ke depannya, model usaha ini akan dikembangkan di seluruh Jabar untuk mewujudkan komoditas tempe yang higienis dan memenuhi standar internasional di provinsi tersebut.
Demikian disampaikan Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Bogor, Suhaeri pada Workshop Replikasi Pengembangan Model Industri Tahu Tempe Berkelanjutan di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar, Jln. Ir. H. Djuanda, Bandung pada Selasa (8/1).
Menurutnya, kehadiran RTI selain dapat meningkatkan standar tempe yang diproduksi, sekaligus bisa memperluas segmen pengonsumsi tahu dan tempe. "Jadi kehadiran RTI bukan untuk menjadi pesaing pengrajin tempe yang sudah ada saat ini, tapi justru memperluas segmen yang sudah ada. Oleh karena itu harganya pun dibedakan dari tempe yang biasa dijual di pasaran," kata Suhaeri.
Menurut Seconded Project Officer Scope Indonesia, Kristanto Budi Nugroho, permintaan terhadap tahu tempe sebagian besar dipenuhi oleh UMKM dan usaha tersebut secara nasional menghasilkan omzet sekitar Rp 740 miliar/ tahun.
Selain itu, usaha tersebut menjadi sumber pendapatan bagi sekitar 85 ribu pelaku usaha dan memberikan mata pencaharian bagi 285 ribu pekerja. "Namun, di sisi lain, industri tersebut juga menghasilkan emisi karbon yang cukup besar, yaitu 29 juta ton/ tahun. Proses produksinya juga tidak efisien, pembuangan limbah sembarangan, tidak higienis, dan pengembangan teknologi bersifat rendah," katanya.
Menurut Ketua Program Tahu dan Tempe Mercy Corps Indonesia, Irfansyah, alih teknologi industri tahu dan tempe di sejumlah daerah di Jabar diharapkan selain dapat meningkatkan kualitas komoditas tempe, juga dapat menurunkan emisi karbon. "Fokus program kami adalah alih teknologi sebanyak 800 industri tahu tempe kepada teknologi yang berkelanjutan. Di Jabar, rencananya dilakukan di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Sumedang.
Sementara di luar Jabar yaitu Jakarta, Kulonprogo, dan Gunung Kidul. Bila alih teknologi tersebut terlaksana, maka hal tersebut bisa menurunkan emisi karbon sebesar 260 ribu ton setiap tahun," katanya. Senior Program Officer Scope Program Mercy Corps Indonesia, M. Ridha mengatakan, satu unit RTI di Bogor memiliki nilai investasi Rp 467,5 juta. "Hal itu sudah mencakup pembangunan fisik bangunan senilai Rp 350 juta, pembangunan pengolahan limbah Rp 40 juta, dan peralatan produksi Rp 77,4 juta," katanya.
Ia mengharapkan, produk tempe di Jabar memenuhi standar higienis baik itu yang diproduksi pengrajin untuk konsumsi rumah tangga secara umum, juga yang diproduksi RTI yang memiliki segmen menengah atas, industri pangan, dan industri farmasi. "RTI di Bogor sejauh ini sudah memiliki konsumen beberapa rumah makan, sekolah unggulan, komunitas organik, komunitas vegan (vegetarian), lembaga penelitian, dan industri farmasi terkemuka di Indonesia," kata Ridha. (A-207/A-89)
Sumber: Pikiran Rakyat Online - Selasa, 08 Januari 2013

0 comments:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates