BANDUNG, (PRLM).-
Jabar menjadi provinsi pertama tempat dikembangkannya usaha mikro kecil
dan menengah (UMKM) yang memproduksi komoditas tempe higienis dan
berlevel premium dengan pabrik yang ramah lingkungan.
Hal tersebut ditandai dengan keberadaan
Rumah Tempe Indonesia (RTI) yang didirikan sejak Juni tahun lalu di
Bogor. Ke depannya, model usaha ini akan dikembangkan di seluruh Jabar
untuk mewujudkan komoditas tempe yang higienis dan memenuhi standar
internasional di provinsi tersebut.
Demikian disampaikan Ketua Koperasi
Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Bogor, Suhaeri pada
Workshop Replikasi Pengembangan Model Industri Tahu Tempe Berkelanjutan
di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar, Jln. Ir.
H. Djuanda, Bandung pada Selasa (8/1).
Menurutnya, kehadiran RTI selain dapat
meningkatkan standar tempe yang diproduksi, sekaligus bisa memperluas
segmen pengonsumsi tahu dan tempe. "Jadi kehadiran RTI bukan untuk
menjadi pesaing pengrajin tempe yang sudah ada saat ini, tapi justru
memperluas segmen yang sudah ada. Oleh karena itu harganya pun dibedakan
dari tempe yang biasa dijual di pasaran," kata Suhaeri.
Menurut Seconded Project Officer Scope
Indonesia, Kristanto Budi Nugroho, permintaan terhadap tahu tempe
sebagian besar dipenuhi oleh UMKM dan usaha tersebut secara nasional
menghasilkan omzet sekitar Rp 740 miliar/ tahun.
Selain itu, usaha tersebut menjadi
sumber pendapatan bagi sekitar 85 ribu pelaku usaha dan memberikan mata
pencaharian bagi 285 ribu pekerja. "Namun, di sisi lain, industri
tersebut juga menghasilkan emisi karbon yang cukup besar, yaitu 29 juta
ton/ tahun. Proses produksinya juga tidak efisien, pembuangan limbah
sembarangan, tidak higienis, dan pengembangan teknologi bersifat
rendah," katanya.
Menurut Ketua Program Tahu dan Tempe
Mercy Corps Indonesia, Irfansyah, alih teknologi industri tahu dan tempe
di sejumlah daerah di Jabar diharapkan selain dapat meningkatkan
kualitas komoditas tempe, juga dapat menurunkan emisi karbon. "Fokus
program kami adalah alih teknologi sebanyak 800 industri tahu tempe
kepada teknologi yang berkelanjutan. Di Jabar, rencananya dilakukan di
Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Sumedang.
Sementara di luar Jabar yaitu Jakarta,
Kulonprogo, dan Gunung Kidul. Bila alih teknologi tersebut terlaksana,
maka hal tersebut bisa menurunkan emisi karbon sebesar 260 ribu ton
setiap tahun," katanya. Senior Program Officer Scope Program Mercy Corps
Indonesia, M. Ridha mengatakan, satu unit RTI di Bogor memiliki nilai
investasi Rp 467,5 juta. "Hal itu sudah mencakup pembangunan fisik
bangunan senilai Rp 350 juta, pembangunan pengolahan limbah Rp 40 juta,
dan peralatan produksi Rp 77,4 juta," katanya.
Ia mengharapkan, produk tempe di Jabar
memenuhi standar higienis baik itu yang diproduksi pengrajin untuk
konsumsi rumah tangga secara umum, juga yang diproduksi RTI yang
memiliki segmen menengah atas, industri pangan, dan industri farmasi.
"RTI di Bogor sejauh ini sudah memiliki konsumen beberapa rumah makan,
sekolah unggulan, komunitas organik, komunitas vegan (vegetarian),
lembaga penelitian, dan industri farmasi terkemuka di Indonesia," kata
Ridha. (A-207/A-89)
Sumber: Pikiran Rakyat Online - Selasa, 08 Januari 2013


20.49
PKS KLAPANUNGGAL
0 comments:
Posting Komentar