Setelah menimbang dan membayar, barulah
lelaki itu meraih tangan putranya dan menuntun, sementara tangan satunya
menenteng kantong-kantong plastik sarat belanjaan. Lelaki yang tak
rikuh menggantikan tugas istrinya bergabung dengan ibu-ibu berbelanja
sayuran itu bernama Ahmad Heryawan. Kini kita mengenalnya sebagai
gubernur Jawa Barat.
Sebagaimana saat itu, kini publik
mengenalnya sebagai sosok yang tak canggung melakukan hal-hal wajar yang
entah mengapa, kini mulai dipandang 'tidak wajar'. Misalnya, yang
gampang diingat publik, Heryawan dengan tegas mencoret anggaran
pengadaan 18 mobil dewan dalam APBD 2011 Kabupaten Bandung.
Tak ragu-ragu akan kemungkinan tanggapan
negatif anggota Dewan yang akan memengaruhi pencitraan terhadap
dirinya, Heryawan melakukan hal itu dengan tegas dan yakin bahwa itulah
yang terbaik bagi rakyat. Bagaimana tidak, saat itu APBD Kabupaten
Bandung tercatat defisit.
Tetapi Heryawan pun tak hanya bisa tegas
terhadap orang lain. Publik masih ingat betapa Heryawan dan wakilnya
hingga saat ini memilih menggunakan mobil dinas lama yang dipakai
gubernur sebelumnya, Dani Setiawan, yakni Toyota Royal Crown buatan
2007, satu kendaraan SUV dan sebuah jip.
Mungkin bisa terkesan berlebihan, tetapi
apa yang dilakukan Heryawan dengan berbelanja sayuran sendiri akan
gampang mengingatkan kaum muslimin akan Ammar bin Yasir ketika menjabat
sebagai gubernur. Ammar tak jarang berbelanja ke pasar dan mengikat
serta memanggul sayuran belanjaan sendirian. Atau Khalifah Ummar bin
Abdul Aziz, khalifah negara besar dan kaya, tetapi memilih hidup
sederhana. Dan kita sadar, betapa sosok-sosok seperti itu kian lama
semakin langka
Dari Ahmad Heryawan orang bisa kian
membenarkan pernyataan seorang mahaguru manajemen, Peter Drucker.
Drucker menyatakan, manakala kita melihat perusahaan-perusahaan besar
yang maju dan unggul, jangan salah, ada keputusan-keputusan berani di
belakangnya.
Artinya, bahkan Drucker yang rasional
pun percaya, keberanianlah yang membawa manusia kepada kemaslahatan,
kebaikan bersama. Kita bahkan pernah mendengar dari alm Rendra,
keberanian adalah cakrawala. Kian berani seseorang, makin mampu ia
melihat dunia secara holistik. Menilik apa yang telah dilakukan Heryawan
selama hampir empat tahun kepemimpinannya di Jawa Barat, keberanian itu
begitu nyata dan gamblang.
Lihat saja, manakala sadar bahwa Jabar
kian lama kian panas akibat tanaman yang kian hilang dari kehidupan,
Heryawan berani mengembangkan program penghijauan dalam skala besar. Ia
pun mencanangkan Gerakan Jabar Hijau berbasis sekolah.
Alhasil dalam waktu yang cepat telah
ditanam 11 juta batang pohon di 26 kabupaten/kota se-Jabar, hingga
selama 2011 tercatat telah ditanam 170 juta batang pohon di Jabar. Wajar
bila prestasi itu diganjar rekor oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).
Tidak hanya itu. Dalam bidang kependudukan dan demografi Heryawan pun
mencetak prestasi dengan menerima penghargaan dari Kementerian Tenaga
Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) berupa "Transmigrasi Award".
Yang menarik, hanya dalam sebulan,
Desember lalu Heryawan menerima empat anugerah dan penghargaan. Pertama
saat Hari Nusantara, 13 Desember, di Dumai, Riau; kedua Satya Lencana
Kebaktian Sosial di Jogjakarta pada Peringatan HKSN, 19 Desember; ketiga
Parahita Ekapraya Pratama di Jakarta pada Peringatan Hari Ibu 22
Desember; lalu Transmigrasi Award, 27 Desember 2011. Jujur saja, tak
banyak kepala daerah yang menerima empat penghargaan berkatagori
nasional hanya dalam waktu sebulan.
Yang juga menarik dan masih hangat,
manakala para pejabat beramai-ramai menyatakan kesiapan membeli mobil
Esemka buatan para pelajar Kota Solo, Ahmad Heryawan dengan tegas
menyatakan keengganan untuk latah. Ia menyatakan hanya berminat membeli
mobil karya pelajar-pelajar Jabar. "Saya enggak mau beli dari Solo. Saya
mau beli karya pelajar dari Jawa Barat," kata dia.
Itulah Heryawan. Dengan pemimpin seperti
itu, rakyat Jabar layak optimistis bahwa daerahnya akan mampu menjadi
provinsi termaju di Indonesia. Dan tentu saja, untuk itu mereka juga
dituntut berpartisipasi sesuai bidangnya. Rakyat jabar, layak bangga
dipimpin seorang berani yang yakin akan cita-ciota bersama.
Tapi kita pun tahu, keberanian
mensyaratkan banyak hal. Dan yang terutama, tampaknya, tidak adanya
pamrih. Karena tanpa adanya pamrih, maka keberanian tak pernah
tersandera. Semoga kita semua pada saatnya memiliki pemimpin seperti
itu. Pemimpin yang hanya tersandera satu hal: kepentingan rakyatnya.
(Salya Aradea)


06.21
PKS KLAPANUNGGAL
0 comments:
Posting Komentar