Islamedia - Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, terus berlanjut. Diharapkan pada akhir tahun ini, pembangunan sudah bisa rampung semuanya. “Kami cukup optimistis pengerjaan rumah sakit ini bisa tepat waktu. Insya Allah, Desember sudah jadi bangunannya,” kata Presidium Medical Emergency Rescue Commitee (MER-C), Joserizal Jurnalis, di Jakarta, Senin (13/2).
Joserizal menjelaskan, sejauh ini proses pembangunan sempat dihadang sejumlah kendala. Selain masalah cuaca, ia juga meng aku, blokade yang dilakukan Israel telah membuat suplai barang bangunan menjadi terhambat.
“Kita memang sempat terlambat sekitar sebulan kemarin ini. Tapi, mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar,” ujarnya.
Rima Manzanaris, manajer operasional MER-C, menjelaskan, untuk pembangunan rumah sakit ini, pihaknya membagi ke dalam tiga tahapan.
Pada tahap pertama, di lakukan pengerjaan struktur, lalu tahap kedua, mengerjakan arsitektural, mekanikal, dan sistem keelektrikan. Sedangkan, tahap terakhir mengisi kebutuhan buat operasional rumah sakit.
Untuk pengerjaan struktur, sudah dikerjakan sekitar delapan bulan lalu. Tenaga ahlinya berasal dari Indonesia. Sedangkan, untuk tenaga lapangan, menggunakan pekerja lokal. Biaya yang disedot dari pengerjaan tahap pertama ini sekitar Rp 10 miliar. Luas bangunan yang dikerjakan pada tahap pertama ini seluas 9.200 meter persegi, bangunannya terdiri dari 2,5 lantai.
Pengerjaan tahap pertama telah mencapai 83 persen. Untuk pendanaan pembangunan membutuhkan biaya Rp 30 miliar, termasuk untuk isi rumah sakit. Sementara, dana yang kini terkumpul dari sumbangan warga Indonesia baru sekitar Rp 19,5 miliar. Menurut Rima, semua dana itu berasal dari donasi masyarakat Indonesia, tak ada sama sekali dari pemerintah.
Menurut Rima, rumah sakit ini nantinya memiliki daya tampung hingga 100 tempat tidur, Selain itu, juga akan ada ruang ICU, X-Ray, bengkel pembuatan tangan dan kaki palsu, serta ruang rehabilitasi.
“Kami rencanakan rumah sakit tersebut sebagai trauma centre untuk menampung korban perang,” katanya. Trauma di sini maknanya pengobatan dilakukan untuk korban patah tulang, kaki, dan sebagainya.
Bila kelak rumah sakit selesai, maka akan menjadi bangunan unik di Gaza. Sebab, rumah sakit dirancang dengan bentuk segi delapan seperti Qubbah Sakhra dekat Masjid al-aqsha. Di samping itu, kebanyakan bangunan di sana berbentuk kubus. Lokasi rumah sakit, jelas Rima, berada di dekat perbatasan Gaza dengan tanah jajahan Israel.
Selain MER-C, yang berkontribusi melalui rumah sakit, ada Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa). Menurut Ketua Kispa, Ferry Nur, penduduk Gaza masih membutuhkan bantuan kemanusiaan karena Israel masih tetap memblokade daerah itu. Sekarang, cuaca di Gaza sangat dingin dan ia memperoleh informasi cuaca bisa mencapai minus 10 derajat Celsius.
Warga Gaza membutuhkan pakaian hangat untuk melawan hawa dingin itu. Bantuan lainnya dibutuhkan oleh mereka. Ferry menuturkan, pihaknya telah mengirimkan bantuan dana dari masyarkat Indonesia.
Belum lama ini, jelas dia, Kispa berencana masuk ke Gaza namun tak diizinkan masuk oleh Pemerintah Mesir. Meski demikian, bantuan yang sudah disiapkan tetap bisa masuk ke Gaza.
Sebab, jelas Ferry, Kispa bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan lain yang bergerak di wilayah tersebut. Pada Desember 2011 hingga Januari 2012 terdapat Rp 150 juta yang dikirimkan ke Gaza.
Ia juga meminta warga Indonesia selalu mengingat dan membantu warga Gaza. “Itu bisa dengan doa maupun dana.“
Ferry mengatakan, hingga saat ini Kispa juga menyosialisasikan program wakaf Alquran mushaf al-Aqsa untuk mengingatkan umat Muslim di Indonesia akan nasib masjid tersebut yang terancam tergusur Israel. Sudah ada 10 ribu orang yang berpartisipasi dalam program ini.[rep/fer/im]


01.01
PKS KLAPANUNGGAL
Posted in:
0 comments:
Posting Komentar