Media-media internasional saat ini ramai membicarakan usulan Palestina ke DK PBB untuk menjadi negara merdeka penuh, beragam reaksipun bermunculan, dari yang menolak hingga setuju, Israel dan sekutunya AS dari awal sudah jelas-jelas menentang usulan tersebut.
Memang akan sangat sulit menaruh harapan pada barat, AS ataupun organisasi internasional untuk mengakui negara Palestina baik secara de Jure dan de Facto, selama PBB dan organisasi internasional lainnya tetap memberikan keistimewaan khusus kepada negara negara barat seperti hak veto bagi lima negara di lembaga terbesar dunia PBB.
AS misalnya selalu menggunakan hak veto ini ketika kepentingan israel mulai terpinggirkan, AS sejak tahun 1968 telah menggunakan lebih dari 50 hak vetonya untuk selalu membela kepentingan Israel yang terkadang mengabaikan kepentingan dan kemanan nasionalnya, dunia mengetahui betapa Isarel dan Palestina memiliki kepentingan yang bertolak belaka dalam membela negaranya masing-masing. Yang satu tetap menjajah dan satunya tetap ingin merdeka.
Keinginan Palestina untuk menggunakan jalur PBB dewasa ini untuk membawa tuntutan kemerdekaannya ke dewan keamanan adalah langkah tak terhitung negara Kan`an ini untuk memperoleh pengakuan atas kemerdekaannya, pertanyaannya adalah akankah tuntutan kemerdekaan ini akan berjalan mulus atau akan kembali terhadang tembok besar AS dan sekutunya yang secara sejarah memang akan selalu membela kepentingan Israel, lalu bagaimana cara efektif Palestina diakui secara internasional ? adalah beberapa pertanyaan yang akan di jawab dalam makalah singkat ini.
Politik luar negeri Israel yang sangat Realis
Harus diakui oleh Palestina bahwa pemerintahan Israel tak akan pernah mengakui negara yang bernama Palestina, jikalaupun ada kesempatan untuk memperoleh kemerdekaannya dengan sederetan perdamaian demi perdamaian yang sponsori AS dan negara lainnya, maka itu adalah akal bulus pemerintah Israel untuk mengulur-ulur waktu saja, mulai dari Camp David hingga Annapolis, kemana perginya pasal-pasal perdamaian itu, tak pernah terdengar setelah perundingan selesai dilakukan.
Isarel adalah negara bentukan barat untuk melemahkan posisi arab khususnya dan dunia islam umumnya, OKI, Liga Arab menjadi begitu tak berkutik ketika membela kepentingan Palestina, semua itu sebagai bukti betapa dunia arab begitu tak begigi dikawasan, ini adalah fakta pahit yang harus diakui arab, pahit memang namun inilah fakta tak terbantahkan.
Israel yang berdiri tahun 1948 kemudian menjadi negara pengacau stabilitas Timur tengah, ditambah lagi dengan sikap pemimpin arogan Timur tengah lainnya seperti Mubarok dan lainnya yang selalu menjadi boneka dan perpanjangan tangan Israel ketika sudah menyinggung kepentingan negara rasis Yahudi tersebut.
Ketika Agresi besar-besaran Israel pada akhir 2009 yang telah menewaskan ribuan nyawa tak bersalah Gaza, maka Mubarok dengan kekerasan hatinya tak bergeming sedikitpun atas desakan masyarakat dunia untuk membuka pintu Rafah agar bisa menyuplai bahan logistik untuk rakyat Palestina, namun kenyataanya pintu perbatasan itu tak kunjung ia buka, berkelit dengan telah terikat perjanjian Eropa, Israel dan Mesir untuk tidak membukanya kecuali dengan persetujuan tiga negara ini.
Palestina dan dunia islam harus membaca politik luar negeri Israel ini, sampai kapanpun Israel tak akan pernah mengakui negara yang bernama Palestina, sikap ini akan tetap dipertahankan Israel dengan mengoptimalkan organisasi-organisai dunia seperti PBB dan organisasi dunia lainnya.
Tingkatkan Kwalitas
Israel adalah negara yang mengedapankan realisme dalam membangun hubungan internasionalnya, Realisme selalu mengandalkan power dalam berdiplomasi, jika power lemah jangan harap dilirik Israel, semua bentuk diplomasi dan pendekatan idealisme lainnya baik dengan perundingan dan perjanjian tak akan pernah dilirik israel, jikalaupun perundingan atau perdamaian dijalankan maka semua itu hanyalah simbol tak bernilai serta strategi mengulur-ulur waktu, karena bagi Israel perjanjian bisa di perbaharui dengan perjanjian berikut lainnya.
Karenanya, Palestina jika ingin merdeka jangan menggunakan jalur idealisme disaat musuh menggunakan realisme dan power, jangan berharap AS tidak menggunakan vetonya ketika mengusulkan kemerdekaannya diakui dilembaga superbodi tersebut, NEVER dan tak akan pernah ….
Palestina harus memperkuat diri, menyatukan seluruh friksi yang bertikai, Hamas dan Fatah harus bersatu, Gaza dan Tepi Barat harus satu sikap jika ingin kekuatan dan bergaining politik kawasan diakui, jika Hamas Fatah tetap tak bersatu, Gaza dan Tepi Barat juga tak bersatu maka tinggalkan kata merdeka Palestina .
Allah bukannya tak mampu menjadikan Palestina merdeka, mudah bagiNya itu, namun ia tidak memberikan itu karena Palestina memang belum pantas menerimanya, hatinya masih bercerai-berai dan kekuatannya masih sangat lemah.
Seorang sahabat pernah datang ke baginda nabi kemudian mengatakan, wahai nabi angkatlah aku menjadi pemimpin, nabi mengatakan, tidak akan kulakukan itu wahai sahabtku, sebab engkau masih lemah. Bagi nabi sangat mudah mengeluarkan SK pengangkatan, namun pertanyaan besarnya adalah sudah kuatkah ia menjadi pemimpin, jangan-jangan ketika diberikan SK musibah lebih besar malah akan terjadi, karena ketidak siapannya itu.
Itulah sebabnya mengapa meningkatkan kwalitas diri dalam hal ini kwalitas Palestina menjadi kewajiban yang tak bisa ditunda-tunda, jika ingin PBB mengakui Palestina merdeka, satukan kata Ismail Haniyya dan Mahmud Abbas, Fatah dan Hamas, bangun intern diri terlebih dahulu , jika kata dan hati telah bersatu dan kekuatan sudah stabil maka PBB dengan sendirinya nanti akan menawarkan kemerdekaan. BRAVO PALESTINA
Memang akan sangat sulit menaruh harapan pada barat, AS ataupun organisasi internasional untuk mengakui negara Palestina baik secara de Jure dan de Facto, selama PBB dan organisasi internasional lainnya tetap memberikan keistimewaan khusus kepada negara negara barat seperti hak veto bagi lima negara di lembaga terbesar dunia PBB.
AS misalnya selalu menggunakan hak veto ini ketika kepentingan israel mulai terpinggirkan, AS sejak tahun 1968 telah menggunakan lebih dari 50 hak vetonya untuk selalu membela kepentingan Israel yang terkadang mengabaikan kepentingan dan kemanan nasionalnya, dunia mengetahui betapa Isarel dan Palestina memiliki kepentingan yang bertolak belaka dalam membela negaranya masing-masing. Yang satu tetap menjajah dan satunya tetap ingin merdeka.
Keinginan Palestina untuk menggunakan jalur PBB dewasa ini untuk membawa tuntutan kemerdekaannya ke dewan keamanan adalah langkah tak terhitung negara Kan`an ini untuk memperoleh pengakuan atas kemerdekaannya, pertanyaannya adalah akankah tuntutan kemerdekaan ini akan berjalan mulus atau akan kembali terhadang tembok besar AS dan sekutunya yang secara sejarah memang akan selalu membela kepentingan Israel, lalu bagaimana cara efektif Palestina diakui secara internasional ? adalah beberapa pertanyaan yang akan di jawab dalam makalah singkat ini.
Politik luar negeri Israel yang sangat Realis
Harus diakui oleh Palestina bahwa pemerintahan Israel tak akan pernah mengakui negara yang bernama Palestina, jikalaupun ada kesempatan untuk memperoleh kemerdekaannya dengan sederetan perdamaian demi perdamaian yang sponsori AS dan negara lainnya, maka itu adalah akal bulus pemerintah Israel untuk mengulur-ulur waktu saja, mulai dari Camp David hingga Annapolis, kemana perginya pasal-pasal perdamaian itu, tak pernah terdengar setelah perundingan selesai dilakukan.
Isarel adalah negara bentukan barat untuk melemahkan posisi arab khususnya dan dunia islam umumnya, OKI, Liga Arab menjadi begitu tak berkutik ketika membela kepentingan Palestina, semua itu sebagai bukti betapa dunia arab begitu tak begigi dikawasan, ini adalah fakta pahit yang harus diakui arab, pahit memang namun inilah fakta tak terbantahkan.
Israel yang berdiri tahun 1948 kemudian menjadi negara pengacau stabilitas Timur tengah, ditambah lagi dengan sikap pemimpin arogan Timur tengah lainnya seperti Mubarok dan lainnya yang selalu menjadi boneka dan perpanjangan tangan Israel ketika sudah menyinggung kepentingan negara rasis Yahudi tersebut.
Ketika Agresi besar-besaran Israel pada akhir 2009 yang telah menewaskan ribuan nyawa tak bersalah Gaza, maka Mubarok dengan kekerasan hatinya tak bergeming sedikitpun atas desakan masyarakat dunia untuk membuka pintu Rafah agar bisa menyuplai bahan logistik untuk rakyat Palestina, namun kenyataanya pintu perbatasan itu tak kunjung ia buka, berkelit dengan telah terikat perjanjian Eropa, Israel dan Mesir untuk tidak membukanya kecuali dengan persetujuan tiga negara ini.
Palestina dan dunia islam harus membaca politik luar negeri Israel ini, sampai kapanpun Israel tak akan pernah mengakui negara yang bernama Palestina, sikap ini akan tetap dipertahankan Israel dengan mengoptimalkan organisasi-organisai dunia seperti PBB dan organisasi dunia lainnya.
Tingkatkan Kwalitas
Israel adalah negara yang mengedapankan realisme dalam membangun hubungan internasionalnya, Realisme selalu mengandalkan power dalam berdiplomasi, jika power lemah jangan harap dilirik Israel, semua bentuk diplomasi dan pendekatan idealisme lainnya baik dengan perundingan dan perjanjian tak akan pernah dilirik israel, jikalaupun perundingan atau perdamaian dijalankan maka semua itu hanyalah simbol tak bernilai serta strategi mengulur-ulur waktu, karena bagi Israel perjanjian bisa di perbaharui dengan perjanjian berikut lainnya.
Karenanya, Palestina jika ingin merdeka jangan menggunakan jalur idealisme disaat musuh menggunakan realisme dan power, jangan berharap AS tidak menggunakan vetonya ketika mengusulkan kemerdekaannya diakui dilembaga superbodi tersebut, NEVER dan tak akan pernah ….
Palestina harus memperkuat diri, menyatukan seluruh friksi yang bertikai, Hamas dan Fatah harus bersatu, Gaza dan Tepi Barat harus satu sikap jika ingin kekuatan dan bergaining politik kawasan diakui, jika Hamas Fatah tetap tak bersatu, Gaza dan Tepi Barat juga tak bersatu maka tinggalkan kata merdeka Palestina .
Allah bukannya tak mampu menjadikan Palestina merdeka, mudah bagiNya itu, namun ia tidak memberikan itu karena Palestina memang belum pantas menerimanya, hatinya masih bercerai-berai dan kekuatannya masih sangat lemah.
Seorang sahabat pernah datang ke baginda nabi kemudian mengatakan, wahai nabi angkatlah aku menjadi pemimpin, nabi mengatakan, tidak akan kulakukan itu wahai sahabtku, sebab engkau masih lemah. Bagi nabi sangat mudah mengeluarkan SK pengangkatan, namun pertanyaan besarnya adalah sudah kuatkah ia menjadi pemimpin, jangan-jangan ketika diberikan SK musibah lebih besar malah akan terjadi, karena ketidak siapannya itu.
Itulah sebabnya mengapa meningkatkan kwalitas diri dalam hal ini kwalitas Palestina menjadi kewajiban yang tak bisa ditunda-tunda, jika ingin PBB mengakui Palestina merdeka, satukan kata Ismail Haniyya dan Mahmud Abbas, Fatah dan Hamas, bangun intern diri terlebih dahulu , jika kata dan hati telah bersatu dan kekuatan sudah stabil maka PBB dengan sendirinya nanti akan menawarkan kemerdekaan. BRAVO PALESTINA
Wallahu `alam
Syafiuddin Fadlillah
Peneliti ISMES
( The Indonesian Society for Middle East Studies)


02.08
PKS KLAPANUNGGAL
Posted in:
0 comments:
Posting Komentar